Rabu, 02 Juni 2010

budaya berterimakasih

WARISAN ADILUHUNG, BERTERIMAKASIH!


Murid-murid SMA Negeri 3 Yogyakarta membagikan makanan kepada pengayuh becak di Perempatan Tugu, Yogyakarta. Aksi santun itu merupakan ungkapan syukur setelah mereka dinyatakan lulus ujian nasional (Kompas, 26/04).

Ini sungguh suatu potret indah, unik, elegan dan sarat nilai kultural. Aksi para siswa itu berbeda jauh dari ekspresi sebagian besar rekan-rekan mereka. Sebagian besar siswa seantero Nusantara merayakan kelulusan dengan hingar-bingar deru kendaraan bermotor di ruas-ruas jalan, aksi corat-coret pakaian seragam sekolah dan ragam cara "ekstrim" lain. Lain, tindakan para siswa SMAN 3 Yogyakarta mengekspresikan suatu budaya adiluhung: bersyukur atau berterimakasih atas kelulusan yang mereka capai.


Warisan Budaya

Bila seorang anak menerima buah tangan atau hadiah dari teman atau tetangga, orangtua biasanya menganjurkan anak untuk mengucapkan: terimakasih! Tidak sedikit iklan bertebaran di wajah media massa berisi ucapan terimakasih atas terpilihnya seseorang sebagai Kepala Daerah atau terpilih sebagai wakil rakyat (anggota DPR). Maka muncul ungkapan latah, "orang yang tidak tahu berterimakasih, orang yang tidak punya adat"!

Dalam banyak suku bangsa, ucapan terimakasih membudaya. Kata "terimakasih" dapat ditelusuri pada kosakata sejumlah bahasa. Bahasa Jawa mengenal kata: maturnuwun. Bahasa Batak mengungkapkan hal yang sama dengan kata: mauliate. Bahasa Bali memakai kata: matur suksema. Bahasa Dayak (Kanayan) menggunakan kata: makasih boh. Bahasa Toraja mengenal perbendaharaan kata: kurre sumanga'. Bahasa Inggris mengenal kata: thank you. Bahasa Jerman mempunyai kata: danke. Bahasa Prancis memakai kata: merci. Bahasa Spanyol menggunakan kata: gracias. Bahasa Latin mengungkapkan terimakasih dengan istilah: gratias! Dalam bahasa Mandarin dikenal kata: xie xie.

Pepatah bijak mengutarakan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa mengekspresikan karakter dan budaya suatu bangsa. Berterimakasih, suatu warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia dan berbagai suku bangsa, diartikulasikan secara inspiratif dan elegan oleh para siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta. Aksi itu sederhana. Namun ekpresi itu dapat dilihat sebagai teladan dari segelintir anak bangsa ini bagi seluruh pelajar Nusantara dan juga para pemimpin negeri ini. Rasa terimakasih itu menjelmakan kepuasan batin, menumbuhkan kesadaran sosial dan kultural bahwa suatu pencapaian (achievement) tidak lepas dari andil banyak pihak (ada dimensi intersubjektivitas). Secara antropologis, aksi syukuran itu menegaskan dalamnya kesadaran sebagai makhluk sosial (homo socius). Kegembiraan itu perlu dibagikan, terutama kepada yang kecil, terpinggirkan dan tak diperhitungkan secara sosial sebagaimana direpresentasikan oleh tukang becak. Itu realisasi dari solidaritas (concern for others) dan sikap humanis sebagai makhluk sosial.

Dengan tumbuh-mekarnya budaya berterimakasih, lahirlah pribadi-pribadi yang altruis; jauh dari syahwat keserakahan dan sikap egois-pragmatis yang memicu tindak korupsi. Budaya berterimaskasih sejatinya mengadili tindak korupsi dan segala bentuk mafianya. Korupsi adalah aksi dari orang yang tidak tahu diri dan lupa mensyukuri apa yang diberikan kepadanya oleh rakyat maupun bangsa ini. Kalau sejak dini budaya berterimakasih menjadi nilai-nilai fundamental (fundamental values) dalam pengembangan dunia pendidikan di negeri ini, kita optimis bahwa akan terjadi pembaruan dan kemajuan bangsa ini pada masa mendatang.


Pribadi Unggul

Bangsa ini sangat membutuhkan pribadi-pribadi unggul. Barometer keunggulan itu tentu bukan hanya diukur dari segi kognitif dan intelektual semata, apalagi menggunakan kacamata ekonomi yakni akumulasi harta kekayaan dan tumpukan uang. Keunggulan itu hendaknya mencakup aspek-aspek budaya yang sungguh diinternalisasikan, dihayati dan diekspresikan dalam aksi konkret dalam mengupayakan dan memperjuangkan kesejahteraan umum (bonum commune).

Sekolah sebagai lembaga edukatif dan transformasi sosial menjadi tumpuan harapan kita! Di bahu para pendidik dan berbagai civitas academica, bangsa ini menitipkan asa untuk bisa maju, makmur dan berbudaya. Masih banyak pendidik dan peserta didik yang mempunyai concern pada pembangunan budaya bangsa ini, seperti yang sudah diinspirasikan oleh SMA Negeri 3 Yogyakarta. Jadikan budaya: terimakasih!

Toraja Utara, 28 April 2010


Oleh I Made Markus Suma

Pengajar di STIKPAR Tana Toraja

Toraja Utara-Sulsel



Tidak ada komentar:

Posting Komentar